Fiksi

APA BENAR MEREKA PERDULI (?)

Aku mungkin tidak terlahir dari keluarga kaya raya dan aku bukan terlahir dari keluarga yang harmonis. Ayahku menikah lagi tapi ibuku masih tetap bertahan dengan waktu kunjungan seminggu sekali. Aku pernah bertanya kepada ibuku “Kenapa tidak bercerai? Kenapa harus dipertahankan?” Beliau hanya menjawab sekenanya “Ini semua untukmu”

Aku berfikir sejenak lalu bertanya lagi “Kenapa untuk ku? Apa salahku?, Hingga ibu harus mengorbankan kebahagian ibu? Lagi dan lagi beliau hanya menjawab seperlunya saja “Ibu bahagia, sangat bahagia karena melihatmu tumbuh dengan sempurna?” Aku hanya terdiam dan berfikir, Apa definisi sebenarnya tentang sempurna menurut ibuku?

Aku tidak pernah merasa tumbuh dengan sempurna melainkan tumbuh dengan trauma pisikologis. Ibuku tidak pernah tau dan tak akan pernah tau. Aku yakin itu, Karena beliau hanya sibuk mengurus keperluan di rumah dan mengurusku agar tidak pernah merasa kekurangan. Namun beliau lupa, Apa yang sebenarnya aku butuhkan?

Aku selalu iri melihat teman-temanku yang begitu dekat dengan orang tuanya. Aku selalu iri melihat mereka pulang ke rumah disambut dengan senyuman dan pelukkan hangat dari orang tuanya. Aku salah satu murid terbaik di sekolah tetapi ibu maupun ayahku tidak pernah mengambil raportku ke sekolah melainkan nenekku ( ibu dari ibuku ) yang selalu mewakilkan mereka.

Ingin rasanya mereka hadir melihat nama anak satu-satunya masuk daftar nama sepuluh murid terbaik di sekolah yang berhasil maju mewakilkan sekolah untuk ikut kompetisi Cerdas-Cermat tingkat Nasional. Namun aku hanya berharap terlalu banyak. Selepas aku sampai rumah mereka hanya bertanya “apa yang kamu inginkan? biar kami belikan”. Aku menatap mereka pun tidak sanggup apalagi meminta sesuatu hal. Namun situasi seperti ini sudah aku lalui sejak Sekolah Dasar jadi aku sudah mulai terbiasa dan selalu mengabaikannya.

Pada suatu ketika, aku mencoba membuka hati untuk dekat dengan mereka namun itu sangat sulit. aku seperti jatuh kedalam lubang hitam paling dalam dan mencoba keluar tetapi tidak pernah ada hasilnya. Aku selalu merasa ada jarak yang memisahkan, Jarak itu adalah kekecewaan yang mendalam terhadap mereka.

Sikap dan perilaku ayahku terhadap ibuku sangat membuatku muak, Kebaikan ibuku terhadap ayahku sangat membuatku jengkel. Yang ku tahu, Mereka sibuk memperdalam luka masing-masing dengan bersikap seolah semua baik-baik saja tanpa memperdulikanku.

Dalam seminggu sekali, Aku harus melihat akting mereka yang berusah memperlihatkan kepada sekitar kalau mereka baik-baik saja. Sebenarnya aku tau ibuku tidak baik-baik saja dan ayahku hanya mengikuti alur saja entah ada rasa bersalah atau tidak. Aku tidak bisa seperti mereka tetapi aku dituntut untuk menyesuaikan keadaan dan aku dilatih untuk menjadi seseoarang yang lebih naif di Keluarga ini. Itu menyakitkan. Sungguh!

Jika mereka bertengkar, tentu aku yang dijadikan tameng mereka berdua. Tapi mereka lupa, Menjaga perasaanku yang mendengar semua percakapan mereka dengan sangat jelas dan penuh penekanan. Aku bisa merasakan itu. Penekanan yang berisi kesedihan, kekecewan dan amarah yang teramat dalam. Itu sangat menyedihkan. Sungguh!

Dan ada hal yang selalu aku khawatirkan. Aku berfikir, Berfikir sangat jauh. Semakin dewasa semakin banyak hal yang aku fikirkan dan takutkan. Bagaimana jika aku menikah nanti? Bagaimana aku menjelaskan kepada pasanganku kelak? Apa mereka bisa menerima keadaan keluargaku ini? Atau jangan – jangan mereka hanya iba melihatku? Atau mungkin nanti itu menjadi pemicu kehancuran keluarga kecilku kelak?

Fikiran-fikiran menyeramkan itu terus bermuculan tanpa henti dan berujung menjadi ketakutan. Ketakutan untuk membangun keluarga, Ketakutan untuk bertemu seseorang yang akan menjadi pendamping hidupku kelak, Ketakutan-ketakutan lainnya yang menggerogoti fikiranku setiap harinya.

Apa mereka pernah memikirkan kekhawatiranku? Apa mereka benar-benar memperdulikanku? Karena yang aku tahu selama ini, mereka bertahan demi masa depanku. Masa depan seperti apa yang mereka maksud? Kehancuran? Trauma yang semakin dalam untukku?.

Tanpa mereka sadari, Aku tumbuh bersama kekecewaan yang semakin hari tumbuh menjadi trauma. Trauma pisikologis yang menggerogoti sisi terbaikku dalam hal memutuskan masa depanku kelak.

Jangankan masa depan, Melangkah untuk esok hari saja dan bertemu orang banyak. aku harus menyiapakan kebohongan yang sama hingga semua terlihat begitu sempurna. Aku lelah, Aku ingin sebuah kebenaran bukan kebohongan ini.

Banyak sekali pertanyaan untuk mereka. Apa benar yang mereka lakukan semua hanya untukku? Bukan untuk membuktikan siapa yang mau mengalah dan tidak mengalah? Atau untuk membuktikan siapa yang paling berdiri kokoh?

Ingin rasanya aku bertanya demikian, Namun aku tidak sanggup menanyakannya. Bukan karena sedih tapi sudah terlanjur kecewa teramat dalam hingga tak sanggup untuk berbuat apapun.

Karena yang aku tahu mereka sibuk memperdalam luka mereka masing-masing hingga lupa apa yang aku butuhkan sebenarnya..

Tags
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close